Indoroute99

Hubungan Dengan Pasangan Retak, Ini Dia Solusinya!

Dalam menjalin sebuah hubungan tentunya ada saja kerikil tajam yang menjadikan masalah di dalamnya. Kerikil tajam tersebut bisa saja dari faktor internal maupun eksternal. Faktor internal misalnya saja condong ke arah karakter setiap individu sedangkan faktor eksternal adalah dari lingkungan orang tua, saudara, teman, pekerjaan dan sebagainya. Setidaknya ada dua faktor besar yang memicu terjadinya pertengkaran namun bukan berarti dengan adanya faktor pemicu tidak ada cara memperbaiki hubungan dengan pasangan.

Hal pertama yang harus Anda sadari adalah ego masing-masing, selama ego Anda diutamakan maka tidak akan ada jalan keluar dari masalah yang ada. Di sini, cobalah Anda pelajari tentang bagaimana menyelesaikan retakan hubungan dengan pasangan.

  1. Sadari Akan Sifat Egois Tinggi

Egois adalah keadaan dimana masing-masing individu merasa dialah yang paling benar dan tidak ingin atau gengsi untuk membuka sebuah omongan. Tidak semua orang lahir dengan sifat egois tinggi namun bisa terbentuk dengan pola lingkungan sekitar. Anda sebagai pria tentunya merasa selalu mengalah namun sebenarnya tidak ada salahnya jika harus demikian karena memang dasarnya Anda masih cinta dengan wanita itu. Kesampingkan dulu ego Anda (baik pria/wanita) ketika pasangan sedang naik darah.

Buka Dengan Kepala Dingin

Ketika sedang panas-panasnya bertengkar akal sehat akan cenderung menurun dan kemungkinan main fisik juga sering terjadi. Jika sedang seperti ini, Anda duduk dan minumlah air dingin atau tarik nafas panjang agar emosi tidak semakin meluap. Bacalah doa sesuai agama masing-masing agar Anda terjaga dari tindakan yang tidak bermoral. Buka dengan kepala dingin artinya bukalah suara dengan nada lebih rendah dari pasangan Anda, hal ini akan membuat pasangan Anda yang sedang marah meluap mengikuti peran Anda.

Komunikasi Dua Arah

Komunikasi dua arah artinya tidak hanya satu sumber saja ketika ada perselisihan, Anda cari dengan pasti apakah sumber masalah yang ada memang sama dengan pernyataan dari pasangan Anda. Terkadang pria mendapatkan kabar dari orang tentang pasangan wanitanya berperilaku kurang baik, sedangkan wanita mendapatkan kabar juga dari pria lain bahwa pasangannya berperilaku aneh. Bertemu dan bicara 4 mata dengan kalimat dan pernyataan yang apa adanya akan lebih membuat kejelasan tentang akar masalah yang ada.

Bicara Masalah Bergantian

Bicara bergantian mungkin sepele tapi jika Anda tidak menerapkan prinsip kesopanan semacam ini, yakinlah pertengkaran akan semakin meruncing. Mungkin wanita dahulu ungkapkan semua keluh kesahnya dan bisa jadi dengan menangis akan lebih lega, barulah jika wanita selesai dengan pernyataan pihak pria menanggapi dengan masalah yang ada. Begitu seterusnya, biasakan dari Anda pacaran selalu seperti ini, perilaku ini akan terbawa sampai ke rumah tangga.

Ungkapkan Semua Keinginan 

Jika Anda masih malas untuk bicara face to face maka bisa dengan menuliskan semua isi hati dalam memo. Namun, perhatikan ya bahasa tulisan terkadang membuat salah paham penangkapan. Namun, sebagai pasangan jangan menyobek itikad baik dari penulis keluh kesan karena sudah berusaha untuk memperbaiki hubungan yang sedang memanas dengan cara menulis memo curahan hati. Bacalah hingga selesai dan datangi pasangan Anda kemudian bicara.

Jangan Ungkit Kembali

Sebuah tema masalah misalnya tentang perilaku saudara yang sangat buruk maka lepaskan dan jangan ungkit di depan pasangan namun pasangan juga harus peka untuk memberikan penengah. Jika wanita sedang marah karena sikap saudara pria maka alihkan dan ajaklah untuk pergi, atau dengan membela sekiranya pihak yang bersalah adalah saudara pria.

Katakan “Aku Masih Cinta”

Katakan “aku masih sayang kamu, aku masih cinta kamu”, ungkapan demikian bisa menjadikan obat ampuh untuk setiap konflik yang terjadi. Pasangan manapun akan merasa slow ketika mendengar hal itu karena “masih dianggap ada di hati”. Jangan lupa setiap mengatakan kalimat cinta diiringi dengan senyuman atau candaan kecil agar pecah suasana tegang. nonton bokep seks agar pengalaman seks kamu bertambah dan bisa membuat pasangan makin cinta.

Tujuh cara memperbaiki hubungan dengan pasangan di atas bisa Anda jadikan bahan pengingat ya saat bertengkar agar tidak ada kata putus atau cerai.

 

 

Dear Boys, We Hate These!

Setiap hubungan punya dinamika dan gayanya sendiri-sendiri. Satu hal yang pasti, tidak ada satu hubungan yang imun terhadap pertengkaran. Apa saja yang sering jadi bahan pertengkaran pasangan masa kini?

Kamu, kok, nggak mengajak aku ke acara kantormu?

Kita tahu bahwa kantornya akan mengadakan acara office gathering dalam waktu dekat, tapi sampai detik ini dia tidak menunjukkan gelagat ingin mengajak kita serta. Kita pun meradang dan berpikir kalau si dia tidak pede membawa kita untuk berkenalan dengan rekan-rekan kerjanya. kantor dan kehidupan kantor adalah dua hal yang berbeda. Leila Collins, psikolog, menjelaskan, “Kantor dan kehidupan kerja adalah dua hal yang berbeda. Seperti sikap kita dengan acara kantor pada umumnya, si dia bisa saja berencana untuk skip dari acara tersebut.

Bisa juga, dia belum siap untuk membawa kita ke acara tersebut, karena dia tidak nyaman dengan rekan kerjanya, misalnya. Bukan karena kita.” Untuk mencegah pertengkaran lebih lanjut, Leila menyarankan agar kita membicarakan perasaan kita kepada pasangan. Bagaimanapun dia yang lebih paham akan situasi tempa kerjanya. Berikan kepercayaan dan hormati keputusannya (untuk tidak mengajak kita sekalipun).

Kamu beda banget saat di depan banyak orang!

“Kamu beda banget saat di depan banyak orang!”
Dia yang biasanya begitu hangat saat berduaan tiba-tiba menjadi ‘asing’ saat berada di depan orang banyak, baik teman-temannya atau keluarganya. Leila menjelaskan bahwa pada beberapa level hubungan pasangan belum tentu merasa benar-benar nyaman untuk menjadi dirinya sendiri. Bisa juga dia belum siap saat kita mengetahui karakter aslinya, masa kecilnya atau hubungan dengan keluarganya. Bisa juga di saat dia memulai hubungan, sebenarnya dia sedang berusaha untuk memulai sesuatu yang benar-benar baru bersama kita. “Jangan langsung menyerangnya dan menuduhnya tidak nyaman membawa hubungan kita di hadapan publik. Bantu dia untuk menyelesaikan isu-nya dan secepatnya menjadi nyaman menjadi dirinya sendiri saat bersama kita, di hadapan siapapun.”

Kamu belikan aku, itu?

Kita mungkin terkejut saat dia datang dengan ide-ide hadiah yang jauh dari harapan kita. Seperangkat DVD saat kita mengharapkan perhiasan yang sudah sekian lama diidam-idamkan, alat pengeriting rambut (yang sudah kita punya dan jarang terpakai), atau legging dengan warna menyala yang menyilaukan mata? We all have been there. Tanamkan di pikiran bahwa pria bukanlah pembaca pikiran. Jangan juga berharap dia cukup sabar untuk ‘mengobservasi’ apa yang sedang kita butuhkan atau diam-diam kita harapkan. “Saat sudah waktu memberi hadiah, pria kadang berpikir pada fungsi.

Tidak semua pria bisa mengambil waktu untuk merenungi keinginan kita. Dia cenderung emberi barang-barang yang dinilainya ‘cukup perempuan’ untuk diberikan pada pasangannya,” jelas Leila. Solusinya, lebih baik terus terang akan apa saja yang menjadi wish list kita, demikian pula dengan si dia. Lupakan gengsi, bayangkan berapa banyak waktu, uang dan pertengkaran yang tidak perlu yang bisa kita hindari hanya dengan berterusterang satu sama lain.

Kamu tidak seperti si…

Saat si dia atau kita mulai membandingkan satu sama lain dengan pria atau wanita lain, atau mantan, atau dia-yang-tidak-boleh-disebutkan-namanya, guess what happens next? A real fight, baby! Saat masuk dalam hubungan baru, ada konsekuensi yang harus kita tanamkan dalam pikiran kita. Yang sudah berlalu, biarlah berlalu. Membandingkan si dia dengan mantan, toh tidak membuat hubungan kita dengan si mantan langgeng juga.

Bagaimana bila dia yang terang-terangan menyebutkan mantannya di depan kita? “Tetaplah tenang dan katakan…well, kamu lebih beruntung kan mendapatkan aku sekarang?” Tidak perlu marah berlebihan, beri dia ruang dan waktu untuk memikirkan ucapannya tersebut. Bila kite berkepala lebih dingin, lebih tenang dan lebih dewasa, masa sih dia mau balik lagi ke mantannya?

Kamu selalu mendahulukan…., ketimbang hubungan kita!

Dia lebih mementingkan pekerjaan, pertandingan olahraga, hang out dengan sahabat-sahabatnya? Sebelum menyerangnya dengan kalimat ini, coba pikir baik-baik. Apakah dia benar-benar tidak punya waktu buat kita atau kita selalu menuntut lebih dari waktu yang bisa dia berikan? Coba diskusikan prioritas waktu dengan si dia. Baik dia maupun kita toh tetap membutuhkan ‘me time’, waktu mengembangkan diri, waktu berkumpul bersama sahabat dan orangtua dan tentu saja alokasi waktu dan energi untuk berprestasi di tempat kerja.

Sepakati kapan saat yang tepat untuk memiliki quality time bersama, atau kapan kita bisa menyisipkan diri dalam agendanya, misalnya. Jangan menyiksa si dia untuk mendedikasikan waktu sepenuhnya untuk memerhatikan kita terus-menerus, bukankah bila dia akhirnya menjadi pribadi yang utuh, happy dan berprestasi, kita juga yang akan ikutan bangga?

Bye Bye, Drama!

Bye Bye, Drama!

Ingin hidup lebih bahagia, less stress, dan punya hubungan yang lebih baik dengan orang lain? Ucapkan selamat tinggal pada drama, sekarang juga!

Drama hanya bagus di televisi, layar lebar, atau panggung pertunjukkan. Dalam kehidupan nyata, drama bukan sesuatu yang menyenangkan. Urban Dictionary mendefinisikan drama ini sebagai: making a big deal over something unnecessarily. Untuk menghindari atau meminimalisir drama di dalam hidup kita, ikuti langkah-langkah berikut ini:

Stop Making Assumptions Kok cara dia memandang aku seperti itu ya? Jangan-jangan dia dengar gosip nggak benar soal aku.” Pikiran-pikiran seperti ini biasanya yang mengawali drama dalam hidup kita. Soalnya, tidak ada seorang pun yang bisa membaca pikiran orang lain. Jadi ketika kita mulai menebak-nebak dan membuat asumsi mengenai alasan, motif, atau isi hati orang lain, maka kita keluar dari kenyataan yang rasional dan menciptakan stres sendiri.

Don’t Trust Rumours Pernah dengar istilah “gosip = digosok makin sip”? Yes, yang namanya rumor atau gosip memang seringkali makin hangat setelah makin berkembang. Sayangnya, ‘perkembangan’ tersebut seringkali tak bisa dipertanggungjawabkan. Hal ini kerap memicu drama yang nggak penting. Untuk itu, lebih baik jangan terlalu percaya pada rumor atau gosip yang tidak kita dengar dari sumbernya langsung.

Say it Straight Bila ada yang mengganjal di hati karena sesuatu hal, atau terhadap seseorang, biasakan langsung bicara kepada yang bersangkutan. Soalnya, tanpa komunikasi yang terbuka maka kesalahpahaman akan sangat mungkin terjadi. Memang sih membicarakan suatu masalah seringkali tidak mudah, dan bisa saja justru memancing konflik. Namun hal ini masih lebih baik daripada memendamnya dalam hati dan pikiran, yang berisiko ‘meledak’ suatu hari dan membuat masalahnya jadi lebih besar.

Beware to the Power of Social Media
“Hari ini bertemu si cewek yang nggak bisa jaga mulutnya. Dasar b*tch! #nomention.” Pasti kiita sering membaca status sejenis ini di Twitter, Facebook, atau social media lainnya; atau justru kita yang kerap menyindir seseorang atau suatu masalah seperti contoh tadi? Ingatlah bahwa social media memiliki kekuatan yang sangat besar. Satu pernyataan yang salah (misalnya salah pemilihan kata, salah sasaran, salah paham, dsb) bisa membuat hal kecil jadi masalah besar.

Forgive & Forget Mari membiasakan diri untuk melupakan dan memaafkan, ketika muncul masalah yang sebenarnya sepele. Memaafkan juga berlaku untuk diri sendiri lho! Don’t be too hard on yourself.

Avoid Drama Queens Setelah yakin kita tidak menciptakan drama untuk dirimu sendiri, cara terbaik untuk hidup tanpa drama adalah dengan menjauhkan diri dari drama queens (or kings!). Bila kamu sudah melihat gejala-gejala seseorang itu seringkali lebay menghadapai hal-hal sepele, sebaiknya kamu mengurangi interaksi dengan dirinya. Atau bila hal itu tidak memungkinankan—misalnya sang drama queen adalah atasan atau sahabatmu sendiri, ingatlah untuk tidak ‘terbawa’ dengannya.

Copyright © 2021 Indoroute99

Theme by WordpressUp ↑