Setiap hubungan punya dinamika dan gayanya sendiri-sendiri. Satu hal yang pasti, tidak ada satu hubungan yang imun terhadap pertengkaran. Apa saja yang sering jadi bahan pertengkaran pasangan masa kini?

Kamu, kok, nggak mengajak aku ke acara kantormu?

Kita tahu bahwa kantornya akan mengadakan acara office gathering dalam waktu dekat, tapi sampai detik ini dia tidak menunjukkan gelagat ingin mengajak kita serta. Kita pun meradang dan berpikir kalau si dia tidak pede membawa kita untuk berkenalan dengan rekan-rekan kerjanya. kantor dan kehidupan kantor adalah dua hal yang berbeda. Leila Collins, psikolog, menjelaskan, “Kantor dan kehidupan kerja adalah dua hal yang berbeda. Seperti sikap kita dengan acara kantor pada umumnya, si dia bisa saja berencana untuk skip dari acara tersebut.

Bisa juga, dia belum siap untuk membawa kita ke acara tersebut, karena dia tidak nyaman dengan rekan kerjanya, misalnya. Bukan karena kita.” Untuk mencegah pertengkaran lebih lanjut, Leila menyarankan agar kita membicarakan perasaan kita kepada pasangan. Bagaimanapun dia yang lebih paham akan situasi tempa kerjanya. Berikan kepercayaan dan hormati keputusannya (untuk tidak mengajak kita sekalipun).

Kamu beda banget saat di depan banyak orang!

“Kamu beda banget saat di depan banyak orang!”
Dia yang biasanya begitu hangat saat berduaan tiba-tiba menjadi ‘asing’ saat berada di depan orang banyak, baik teman-temannya atau keluarganya. Leila menjelaskan bahwa pada beberapa level hubungan pasangan belum tentu merasa benar-benar nyaman untuk menjadi dirinya sendiri. Bisa juga dia belum siap saat kita mengetahui karakter aslinya, masa kecilnya atau hubungan dengan keluarganya. Bisa juga di saat dia memulai hubungan, sebenarnya dia sedang berusaha untuk memulai sesuatu yang benar-benar baru bersama kita. “Jangan langsung menyerangnya dan menuduhnya tidak nyaman membawa hubungan kita di hadapan publik. Bantu dia untuk menyelesaikan isu-nya dan secepatnya menjadi nyaman menjadi dirinya sendiri saat bersama kita, di hadapan siapapun.”

Kamu belikan aku, itu?

Kita mungkin terkejut saat dia datang dengan ide-ide hadiah yang jauh dari harapan kita. Seperangkat DVD saat kita mengharapkan perhiasan yang sudah sekian lama diidam-idamkan, alat pengeriting rambut (yang sudah kita punya dan jarang terpakai), atau legging dengan warna menyala yang menyilaukan mata? We all have been there. Tanamkan di pikiran bahwa pria bukanlah pembaca pikiran. Jangan juga berharap dia cukup sabar untuk ‘mengobservasi’ apa yang sedang kita butuhkan atau diam-diam kita harapkan. “Saat sudah waktu memberi hadiah, pria kadang berpikir pada fungsi.

Tidak semua pria bisa mengambil waktu untuk merenungi keinginan kita. Dia cenderung emberi barang-barang yang dinilainya ‘cukup perempuan’ untuk diberikan pada pasangannya,” jelas Leila. Solusinya, lebih baik terus terang akan apa saja yang menjadi wish list kita, demikian pula dengan si dia. Lupakan gengsi, bayangkan berapa banyak waktu, uang dan pertengkaran yang tidak perlu yang bisa kita hindari hanya dengan berterusterang satu sama lain.

Kamu tidak seperti si…

Saat si dia atau kita mulai membandingkan satu sama lain dengan pria atau wanita lain, atau mantan, atau dia-yang-tidak-boleh-disebutkan-namanya, guess what happens next? A real fight, baby! Saat masuk dalam hubungan baru, ada konsekuensi yang harus kita tanamkan dalam pikiran kita. Yang sudah berlalu, biarlah berlalu. Membandingkan si dia dengan mantan, toh tidak membuat hubungan kita dengan si mantan langgeng juga.

Bagaimana bila dia yang terang-terangan menyebutkan mantannya di depan kita? “Tetaplah tenang dan katakan…well, kamu lebih beruntung kan mendapatkan aku sekarang?” Tidak perlu marah berlebihan, beri dia ruang dan waktu untuk memikirkan ucapannya tersebut. Bila kite berkepala lebih dingin, lebih tenang dan lebih dewasa, masa sih dia mau balik lagi ke mantannya?

Kamu selalu mendahulukan…., ketimbang hubungan kita!

Dia lebih mementingkan pekerjaan, pertandingan olahraga, hang out dengan sahabat-sahabatnya? Sebelum menyerangnya dengan kalimat ini, coba pikir baik-baik. Apakah dia benar-benar tidak punya waktu buat kita atau kita selalu menuntut lebih dari waktu yang bisa dia berikan? Coba diskusikan prioritas waktu dengan si dia. Baik dia maupun kita toh tetap membutuhkan ‘me time’, waktu mengembangkan diri, waktu berkumpul bersama sahabat dan orangtua dan tentu saja alokasi waktu dan energi untuk berprestasi di tempat kerja.

Sepakati kapan saat yang tepat untuk memiliki quality time bersama, atau kapan kita bisa menyisipkan diri dalam agendanya, misalnya. Jangan menyiksa si dia untuk mendedikasikan waktu sepenuhnya untuk memerhatikan kita terus-menerus, bukankah bila dia akhirnya menjadi pribadi yang utuh, happy dan berprestasi, kita juga yang akan ikutan bangga?